WHO Ungkap Faktanya Berjatuhan Korban Meninggal Virus Corona di Asia Benarkah Indonesia Masih Aman

WHO Ungkap Faktanya Berjatuhan Korban Meninggal Virus Corona di Asia Benarkah Indonesia Masih Aman

Berjatuhan korban meninggal dunia virus corona di Thailand, Malaysia, Singapura, benarkah Indonesia benar benar nihil dan steril dan virus asal Wuhan, China ini? Ini pertanyaan penasaran masyarakat luas. Menteri Kesehatan Dr Terawan sendiri merasa tersinggung ketika beredar berita menyebut peralatan uji medis ini terhadap deteksi virus corona belum memadai, sehingga kabar Indonesia steril virus corona masih meragukan sebagian pihak.

"Itu namanya menghina," tukar Menteri Kesehatan dr Terawan. Lalu versi siapa yang bisa dipercaya untuk meyakini Indonesia sejauh ini masih steril dan wabah virus corona dari Wuhan China? Setidaknya hingga hari ini, Kamis (13/2/2020) kemarin, belum ada kasus terkonfirmasi positifvirus coronadi Indonesia.

Sementara, di seluruh dunia, tercatat lebih dari 60.000 kasus terkonfirmasi, dengan jumlah korban meninggal dunia lebih dari 1.600 orang. World Health Organization (WHO) sempat mempertanyakan mengenai nol kasus virus corona di Indonesia. Bagaimana pandangan WHO Indonesia?

Mengutip Kompas.com, Kamis (13/02/2020),WHO Representative, Dr N. Paranietharan mengatakan, pihaknya bersama Kementerian Kesehatan dan sejumlah mitra di Indonesia melakukan pemantauan dan mempersiapkan sistem. Menurut dia, Indonesia telah mengambil langkah konkret untuk bersiap menghadapi penyebaran virus corona Wuhan, yang juga dikenal dengan COVID 19. Pendek kata, ia membenarkan sejauh ini masih steril dari virus corona, setidaknya hingga hari ini.

Ia berharap ke depannya, Indonesia tetap waspada. “Beberapa kegiatan saat ini sedang berlangsung, dari melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengamatan di pintu masuk di seluruh negeri, memastikan kapasitas laboratorium dan ketersediaan alat tes khusus, hingga melengkapi rumah sakit yang ditunjuk dengan fasilitas yang memadai untuk mengelola orang yang dicurigai dan / atau orang yang terinfeksi,” papar Paranietharan, menjawab pertanyaan yang diajukan Kompas.com . Paranietharan mengatakan, Indonesia saat ini telah memiliki alat tes yang diperlukan untuk melakukan tes khusus untuk mendeteksi infeksi coronavirus (COVID 19) dengan cepat.

“Seperti dilaporkan oleh Departemen Kesehatan semua sampel yang dikumpulkan dan diuji telah mengembalikan hasil negative pada 12 Februari 2020,” kata dia. Menurut dia, metode PCR untuk deteksi virus corona COVID 19 adalah metode yang tepat. “Laboratorium (Litbangkes) menggunakan metode yang sesuai untuk COVID 19. Mereka mengikuti prosedur operasi standar dalam menguji sampel sesuai pedoman,” lanjut Paranietharan.

Adapun penggunaan alat tes khusus untuk COVID 19 ini telah dilakukan Litbangkes sejak 1 Februari 2020. Hasil dari tes ini dapat diketahui dalam waktu kurang dari 12 jam sejak sampel diterima. Mengenai anggapan belum adanya kasus positif corona di Indonesia karena daya tahan tubuh masyarakat Indonesia kuat, Paranietharan menyatakan, belum ada bukti soal itu.

Menurut dia, banyak faktor seputar COVID 19 yang belum diketahui. “Apa yang dapat kita lakukan saat ini adalah secara aktif memantau situasi, menerapkan langkah langkah yang kuat. Dan belajar dari keadaan darurat kesehatan sebelumnya untuk memastikan bahwa negara tersebut dipersiapkan sebaik mungkin untuk mencegah dan mengendalikan kemungkinan wabah,” ujar Paranietharan.

Apa saja yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia untuk mencegah penyebaran virus corona COVID 19? Paranietharanmengatakan, saat ini WHO telah memberikan panduan mengenai perlindungan diri sendiri maupun orang lain dari infeksi virus corona COVID 19. “Saran kami termasuk menghindari kontak dekat dengan orang yang menderita infeksi pernapasan akut,” kata Paranietharan.

WHO juga mengimbau agar tak lupa cuci tangan menggunakan air bersih dan sabun atau cairan berbasis alkohol terutama setelah kontak langsung dengan seseorang yang sakit atau lingkungan mereka yang sakit. Ia juga mengingatkan tentang cara yang benar ketika batuk. “Menjaga jarak, menutupi batuk dan bersin dengan tisu atau pakaian sekali pakai, dan mencuci tangan,” ujar Paranietharan.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah mempraktikkan keamanan sebelum makan, dan sebaiknya menghindari kontak tidak aman dengan peternakan maupun hewan liar. (Kompas.com/ Nur Rohmi Aida) Diolah kembali dari sumber:

Sama sepertiBlakrishnayya, pria asal Wuhan, China juga dikabarkan meninggal sia sia gara gara virus corona. Qiu Jun, binaragawan asal China dinyatakan meninggal setelah nekat tak mau pakai masker dan pergi fitnes di tengah virus corona mewabah di lingkungannya. Melansir dari Mstar.com.my (11/2/2020), binaragawan ini terserang virus corona setelah keras kepala menolak memakai masker.

Tak hanya itu, Qiu Jun juga diceritakan oleh anggota keluarganya tetap pergi fitnes di tengah kondisi darurat China akibat serangan virus corona. Sebagai seorang binaragawan memang sulit bagi Qiu Jun untuk menghentikan kebiasaannya berolahraga. Mengingat meski usianya sudah mencapai 72 tahun, Qiu Jun tetap terlihat bugar dan sehat.

Untuk itulah Qiu Jun memutuskan untuk tetap pergi berolahraga dan menolak mengenakan masker saat berada di luar rumah. Sayang, akibat keras kepalanya, Qiu Jun hanya mampu bertahan selama empat hari setelah dinyatakan positif virus corona. Qiu Jun sang binaragawan dikabarkan meninggal dunia pada 6 Februari 2020 lalu.

Awal mula Qiu Jun terpapar virus corona pun mulai diungkap oleh anggota keluarganya. Sebelumnya, pensiunan ini terlihat berolahraga di Taman Zhongshan selama beberapa jam. Sebenarnya, pria ini sudah sering dinasehati oleh anggota keluarganya agar tidak bepergian.

Namun pria ini terus berolahraga dan pergi ke gym sampai seluruh kota Wuhan mulai dikarantina pada 23 Januari lalu. Menurut menantu perempuannya Hai, ia dikirim ke Rumah Sakit Union Wuhan setelah demam. Kemudian pada 28 Januari pria itu menjalani tes.

Ternyata hasilnya yang keluar pada 2 Februari lalu menunjukkan bahwa ia positif menderita virus corona. Qiu sempat ditempatkan di wad isolasi di Wuhan Red Hospital pada keesokan harinya. Namun ia tidak mampu bertahan dan meninggal empat hari kemudian.

Sebagian artikel ini sudah tayang di Intisari.grid.id dengan judul

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )